Skip to Content

Kebutuhan Belajar Santri Read more     Syarat-syarat Masuk PP. Darul Huffadh Read more     GERBANG : Kado mini Milad ke- 37 Darul Huffadh-ku Read more     PENGAJUAN ACARA MENJELANG KESYUKURAN KE - 37 TAHUN Read more     FORMATUR PANITIA KESYUKURAN KE 37 TAHUN PONDOK PESANTREN PUTRI DARUL HUFFADH Read more     Panitia Keyukuran Ke-37 Tahun Darul Huffadh Read more     Lepas Kangen dengan DARUL HUFFADH Read more     Liputan D'Jour Read more     Pendaftaran Santri Baru Read more     Pondok Pesantren Akan Disetarakan Read more     

Asrama Santri dan Guru

Pada awalnya bangunan di pondok pesantren ini bukanlah bangunan-bangunan permanent seperti yang kita lihat sekarang ini. Akan tetapi, bangunan di pondok ini berawal dari bangunan-bangunan yang didirikan secara darurat (semi- permanent), atau lebih tepatnya bangunan yang setiap saat dapat dibongkar oleh aparat. Pihak Pengelola Pesantren ini belum mendirikan bangunan-bangunan yang memadai, dikarnakan Pihak Pengelola belum diberi kesempatan untuk mendirikan pesantren. Sehingga mengharuskan mereka untuk memfungsikan rumah Pendiri sebagai asrama sekaligus pusat kegiatan kepesantrenan yang awalnya hanya berupa pengajian biasa yang diberi nama “Majlis Qurra Wal Huffadh”.

Pada tahun 1993, Pondok Pesantren yang awalnya hanya berupa Pengajian biasa ini resmi menjadi sebuah lembaga Pendidikan Islam. Setelah peresmian Pondok Pesantren ini oleh Bupati Bone, maka dimulailah pembebasan lokasi oleh Bapak Pendiri dengan membeli tanah milik masyarakat setempat. Dan pada tahun 1994, dimulailah pembangunan pesantren. Pembangunan dimulai dari masjid atas sumbangan dana dari Bapak Abdurrahman, seorang Mantan Rektor MUI. Selama setahun kemudian pembangunan terfokus pada masjid. Pada tahun 1995, maka dimulailah untuk mendirikan asrama-asrama dan kelas-kelas di pesantren ini. Adapun dana pembangunan berasal dari berbagai tempat di Indonesia, dintaranya :

  1. H. Mappaita        ( Surabaya)
  2. Hj. Syamsiah       (Jakarta)
  3. Hj. Hedar             ( Surabaya)
  4. H. Rala                ( Surabaya)
  5. H. Said                 ( Surabaya)
  6. Hj. Nurung           ( Surabaya)

Adapun penyumbang dana pembangunan kelas-kelas, diantaranya:

  1. H. Makkita          ( Jakarta)
  2. H. Abbas Nawa    ( Surabaya)
  3. H.Ya’qub Ishaq    ( Jakarta)
  4. H. Lessang S.       ( Surabaya)
  5. Sahar                              ( Kuwait)

Penyumbang dana bangunan-bangunan lainnya:

  1. BKS   Dibangun Oleh: H. Mappaita ( Surabaya)
  2. Ruang Makan Dibangun Oleh: H. Yusuf Kalla ( Makassar)
  3. Koperasi Santri Dibangun Oleh: H. Dg. Makkita (Jakarta)
  4. KMI Dibangun Oleh: H.M. Tahang (Sinjai)
  5. Lab. IPA Dibangun Oleh: Diknas Bone / Depag Bone
  6. Bangunan H. Anis (Sinjai)

Sumbangan-sumbangan dana pembangunan yang datang, murni atas kemauan para penyumbang itu sendiri bukan karena adanya permintaan dari Bapak Pendiri. Adapun bentuk bangunan, itu dirancang langsung oleh Pihak Pengelola Pesantren. Sehingga para Penyumbang yang ingin membangun sendiri bangunannya tinggal mengikuti denah rancangan bangunan yang diberikan oleh Pihak Pengelola. Adapun yang tidak sempat membangun, maka Pihak Pengelolalah yang mengusahakan pembangunannya dengan menggunakan dana dari Penyumbang tersebut.

Meskipun pembangunan asrama-asrama dimulai jauh hari sebelumnya, namun pembangunan asrama baru rampung pada tahun 2002-2003 M. sehingga mengharuskan santri-santri terdahulu untuk tinggal di kelas sambil menunggu rampungnya pembangunan asrama. Akan tetapi hal tersebut tidak menyulutkan semangat mereka dalam menuntut ilmu, dan dapat berhasil di Pondok ini.