Skip to Content

Kebutuhan Belajar Santri Read more     Syarat-syarat Masuk PP. Darul Huffadh Read more     GERBANG : Kado mini Milad ke- 37 Darul Huffadh-ku Read more     PENGAJUAN ACARA MENJELANG KESYUKURAN KE - 37 TAHUN Read more     FORMATUR PANITIA KESYUKURAN KE 37 TAHUN PONDOK PESANTREN PUTRI DARUL HUFFADH Read more     Panitia Keyukuran Ke-37 Tahun Darul Huffadh Read more     Lepas Kangen dengan DARUL HUFFADH Read more     Liputan D'Jour Read more     Pendaftaran Santri Baru Read more     Pondok Pesantren Akan Disetarakan Read more     

DOA INI MASIKAH KITA INGAT ??

SAHABAT DEHARES...

اشهد أن لا إلله إ لا الله وأشهد أن محمدا رسول الله
اللهم اغنني بالعلم وزيني بالحلم وأكرمني بالتقوي وجملني بالعافية، اللهم إني من علم لا ينفع ومن قلب لا يخشع ومن نفس لا تشبع ومن لادعوة لا يستجاب لها، اللهم اغفرلنا وارحمنا واهدنا ويسر أعمالنا لإعلاء كلماتك يا الله.

Doa ini adalah doa pembuka, setiap calon santri diharuskan malafazkan doa tersebut ketika peresmian dirinya sebagai santri di Darul-Huffadh, Saya sendiri waktu itu tidak terlalu paham makna do'a diatas, dan bahkan terbata-bata sewaktu melafalkannya.

Doa diatas bukan sekedar sebagai legalitas bahwa kita sah sebagai santri baru, tetapi lebih sebagai pendahuluan dan komando serta bekal mengarungi kehidupan pesantren, disinilah kejelian Ayahanda A.G. Lanre Said dalam memilih lafazh doa yang sesuai dengan realitas pesantren.

Mari kita lihatt...
Tujuan pokok seorang santri adalah ILMU, maka lafazh "Perkaya (Karuniai) saya dengan ilmu" sesuai dengan tuntutan itu, bila mana ilmu sudah menjadi tujuan dan dipahami secara baik, maka keterasingan dari keluarga, kekurangan dalam makanan, kedisiplinan yang ketat, dan kesusahan-kesusahan lainnya tidak akan jadi penghalang yang berarti, sebab masuk pesantren sudah didahului dengan niat menuntut ilmu dan Ilmu merupakan kemuliaan.

"Hiasi aku dengan kelembutan", "Muliakan aku dengan Taqwa", "Percantik aku dengan Nikmat Afiah (Afiah disini bermakna Kesehatan dan bermakna selalu memaafkan)", Kelembutan, Ketaqwaan, dan Afiah, sebagai sarana penunjang dalam mengejar ilmu, dan ketika telah mencapai ilmu, maka kelembutan, ketaqwaan, dan Afiah adalah buah manis dari ilmu tersebut.

Dalam suasana pesantren kelembutan diperlukan karena kita hadir di tengah komunitas yang heterogen, berbeda suku, dan berlain-lain bahasa, demikan juga dengan ketaqwaan, seorang santri tidak boleh memandang saudaranya dengan hina, merendahkan dan meremehkan karena esensi kemuliaan manusia tolak-ukurnya adalah taqwa.

"Al-Afiyah" Saling-memaafkan tak kalah pentingnya. Disiplin ketat memaksa santri melanggar, Saya ingat dimasa santri baru hanya di beri 3 bulan berbahasa Indonesia selanjutnya harus aktif berbahasa Arab-Inggris 24 jam dalam sehari, boro-boro menguasai bahasa Arab dalam kurun sesingkat itu, bahasa Indonesiaku pun masih belepotan, Akibatnya seorang santri harus menerima hukuman yang bervariasi. Karena Gesekan Hukum-menghukum antara santri baru dan pembimbing, antara pembimbing dan dewan guru tidak bisa dihindari, olehnya harus dihapus dengan saling-memaafkan.

Selanjutnya seorang santri harus paham godaan-godaan dalam menuntut ilmu sehingga mampu menghindarinya, berlindung dari "Ilmu yang tidak bermanfaat", "Hati yang lalai", "Perut tidak pernah puas", Karena sedikit-banyak godaan-goadaan itu berakibat pada doa yang tak terkabul, Ingat wasiat Rasullullah Shallahu Alaihi wasallam kepada Saad Bin Abi Waqqas Radiyallahu Anhu :"Yaa Saad...Atib Mat'amak takun mustajabudda'wah".

"Berlindung dari Doa yang tak terkabul", mengajarkan kepada santri untuk memperbanyak do'a karena ia tidak pernah tau doa mana yang akan dikabulkan, doa juga manjur juga sebagai pemecah masalah, dan pembuka tirai problem solving.

Ketika seseorang "Mustajabu da'wah", adakah lebih baik dari itu ?/

SAHABAT DAHARES...

Di penghujung Do'a Ayanda tidak lupa mengajarkan kita, bahwa manusia sebagaimana pun kuatnya, di hadapan Tuhan hanya sebagai makhluk lemah, setinggi apapun Ilmunya, tidak bisa di kiaskan dengan Ilmu sang Penciptanya yang maha ILMU, maka beliau mengajarkan kita di setiap penghujung kegiatan memohon Ampun kepada Allah, Memohon Rahmat, Kasih-sayangnya.

Allah memuji Hamba yang merasa dhoif di hadapannya, Perasaan dhoif seorang hamba melahirkan pengagungan kepada sang-Khaliq, dan melahirkan totalitas persembahan kepada yang berhak.

"Lii'lai kalimatillah", merupakan tujuan dari ilmu yang kita peroleh, Ilmu sebagai tujuan masuk pesantren dan "Lii'lai kalimatillah" adalah ujung dari Ilmu yang kita dapat, ilmu yang  bermanfaat bagi dirinya, bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat bagi Agamanya.

SAHABAT DEHARES...
Setelah mengetahui Rahasia Do'a itu..
Masikah kita tidak rutin mengamalkan do'a diatas walau setelah bertahun-tahun tidak lagi sebagai Santri Resmi Darul-Huffadh ?//