Skip to Content

Kebutuhan Belajar Santri Read more     Syarat-syarat Masuk PP. Darul Huffadh Read more     GERBANG : Kado mini Milad ke- 37 Darul Huffadh-ku Read more     PENGAJUAN ACARA MENJELANG KESYUKURAN KE - 37 TAHUN Read more     FORMATUR PANITIA KESYUKURAN KE 37 TAHUN PONDOK PESANTREN PUTRI DARUL HUFFADH Read more     Panitia Keyukuran Ke-37 Tahun Darul Huffadh Read more     Lepas Kangen dengan DARUL HUFFADH Read more     Liputan D'Jour Read more     Pendaftaran Santri Baru Read more     Pondok Pesantren Akan Disetarakan Read more     

GERBANG : Kado mini Milad ke- 37 Darul Huffadh-ku

Khaerunnisa

Menatap gerbang dihadapan. Gerbang saksi perjalanan hidupku, saksi segala tindak tanduk kami, saksi bisu segala lakon yang kami jalani. Aku , kamu, mereka.“Hafalanmu sudah berapa juz ,nak ?” Etta memulai pembicaraan , saat aku baru sampai dikediamannya. Rutinitas harian, bahkan tiap waktu wudhu entah sholat lima waktu, ataupun sholat sunnah lainnya. Waktu yang disediakan oleh mudabbiroh OSDHA untuk berwudhu selama 15 menit. Kuakan mencuri-curi kesempatan untuk menyempatkan diri kekamar etta. Sekedar bercerita tentang apa yang kupelajari dalam seharian di asrama tadi, tentang thobur dan jaros.

Sekedar mendengarkan wejangannya yang selalu menyejukkan sanubari, menentramkan. Melebur segala  keluh kesah yang selalu saja kulontarkan dihadapannya. Tentang omongan beberapa santriwati ketika aku melanggar, mereka nyeletuk “Cucu pimpinan, kok melanggar?” (memangnya saya manusia suci tanpa salah dan khilaf?). Atau dalam versi yang lain tapi tetap saja memojokkanku, mereka berujar “Pasti, entar iqobnya berbeda dari kita kita, secara, dirinya kan cucu pimpinan”. Padahal hukumankupun sama dengan mereka bahkan lebih. Karena kita semua sama, tak ada yang dibeda-bedakan. Kita dalam satu naungan yang tak akan pernah pilih kasih dalam hal apapun.

Dihadapan etta semua kucurahkan,bukan maksud mengadukan untuk mengharap perlindungan. Hanya saja aku butuh etta untuk menguatkanku, itu saja. Diakhir wejangannya beliau pasti berucap “Jalani saja, hidup memang seperti itu. Ketika manusia menjalani hidup tanpa masalah, lebih baik mati saja”. Selain daripada itu, aku kekediaman etta, kadang, sekedar ingin bersenda gurau dengan  mencabut uban-ubannya yang menghiasi kepala beliau bagai bintang yang bertaburan, sesekali kubercanda “etta kalau makan ikan bolu, tulang-tulang halusnya disimpan dikepala yah ?”. spontan beliau menjitak kepalaku sambil tersenyum dan berucap “Sembarang too”. (hehe, aku nyengir). Dan hal yang paling sering kulakukan saat bertandang kekediamannya adalah sekedar meminta uang seribu.

 Etta bagiku segalanya. Segala hal tentang kebijaksanaannya terhadap seluruh santri-santriwatinya ustadz-ustadzahnya, segala hal tentang kasih sayangnya terhadap keluarganya, segala hal tentang perhatian serta cinta yang diberikan. Dan segala hal tentang keikhlasannya. Kami mecintai etta, sangat, dan sangat mencintai beliau. Sampai kapanpun kami tetap mencintai etta. Mengagungkan beliau. Kecintaan kami terhadap beliau tak tersentuh bahasa.

***

Gerbang telah dihadapan. Gerbang saksi perjalanan hidup kita, saksi segala tindak-tanduk kami. Saksi bisu disetiap lakon yang kami jalani. Aku, kamu, mereka.

Gerbang terbuka lebar, menyambut setiap calon-calon santri dan santriwati baru yang akan mendaftarkan dirinya.

Tampak beberapa anak yang girang dan senang diantar oleh orang tuanya, awal menjejaki diri dipesantren ini. Biar kutebak anak yang senang ini pasti suka menghadapi tantangan pelik, suka dengan segala hal apapun itu yang kau sebut petualangan. Dan dirinyalah petualang baru yang akan menjalani lakonnya dipesantren ini. Kedua orang tuanya yang begitu antusias untuk mendaftarkan anaknya berharap anaknya dapat bermanfaat bagi umat, dengan sejuta harapan-harapan lainnya. Semoga segala kebaikan mampu diraihnya. Betapa beruntung anak ini.

Tampak disisi yang lain, pandanganku tertuju pada anak yang sedari tadi meraung, menangis seperti bocah ingusan yang mana permen lolipopnya direbut oleh teman sepermainannya. Ibunya dengan sabar membujuk, ayahnya pun duduk disamping anak itu. Mengelus kepala anaknya, menjanjikan segala hal , “Jika kamu bisa bertahan, ayah akan menjengukmu tiap tiga kali per pekan, jarak makassar-bone tidaklah terlalu jauh bagi ayah dan ibumu. Yang terpenting kamu berusaha untuk bertahan nak. Atau berapapun uang yang kamu pinta pada kami, kami akan mengirimkanmu”. Besar harapan kedua orang tua ini terhadap anaknya.

  Dan tampak pula disudut yang berbeda, seorang anak yang nampak bingung, meragu, aura ketakutan terpancar jelas pada raut wajahnya. Ia bingung . Ia meragu, bagaimana mungkin dirinya akan bisa tenang,betah tinggal dipesantren ini jika salah satu dari orang tuanya tak begitu setuju dengan keberadaannya disini. Bukankah ridhollahi fi ridho al walidayn. Masih terngiang jelas ditelinga, ibunya berujar “Mau jadi apa anak kita, jika ayah memasukkannya kepesantren ?. pesantren itu tidak mempelajari pelajaran umum, pelajaran disana kuno, monoton itu itu saja, tak ada perkembangan. Baru dari pelajarannya, belum lagi dari sisi prilaku, lihat anak tetangga kita yang mereka masukkan kepesantren, jauh jauh mereka memasukkannya kepesantren, enam tahun pula. Toh, ujung ujungnya menjadi berandal jalanan juga. Bagai kuda yang keluar dari kandangnya, liar gak ketulungan. Bikin risih warga sekitar, dicap sampah masyarakat. Apa ayah mau anak kita seperti itu?”. Ayah terdiam bijak, namun tetap bersikukuh mengantarkanku kepesantren. Karena ayah yakin akan janji Allah, “intanshurullah yanshurkum, wa yutsabbit aqdaamakum”. Ayah yakin dengan seyakin-yakinnya, bahwa anaknya akan menjadi seseorang yang berpengaruh dan bermanfaat bagi sesama. Bukan menjadi anak berandal yang seperti dicapkan oleh sebagian orang tentang setiap keluaran pesantren. Ayah memelukku, ia membisikkanku suatu hal “Bertahanlah nak. Hadapi, hayati dan nikmati kehidupanmu dipesantren ini. Tak perlu dirimu risau. insyaAllah, ini persoalan waktu saja, suatu saat ibumu pasti akan luluh jika dirimu mampu bertahan dan membuktikan bahwa apa yang dikatakannya itu, semuanya adalah keliru. Bertahanlah nak ! ayah akan selalu mendukungmu”. Bukankah “Khaerunnas anfa’uhum linnas” sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain. Kuazzamkan dalam hati, insyaAllah.

***

Gerbang masih dihadapan. Berdiri kokoh. Gerbang saksi perjalanan hidup kita menjalani kehidupan yang selalu kita sebutkan dunia kecil ini, saksi segala tindak-tanduk, prilaku selama. Saksi bisu disetiap lakon yang kita jalani di Darul Huffadh ini. Aku, kamu, mereka.

Gerbang senantiasa terbuka, menyambut para calon santri dan santriwati. Gerbangpun menjadi saksi ditiap aktivitas yang dijalani para santri dan santriwati. Gerbang melepas para alumni, entah lepas masa pengabdian ataupun yang telah menjadi wisudawan dan wisudawati.  

Untuk para calon santri dan santriwati, perbaikilah niat-niat kalian sebelum melangkahkan kaki menuju gerbang tersebut. Sangatlah penting atas ridho kedua orang tua kita.

Untuk kalian yang telah berada didalamnya, fastabiqul khaerot-lah, persiapkan matang-matang untuk menghadapi dunia besar diluar nanti,dunia sebenarnya dengan segala hiruk pikuk problematika yang membuntuti. Dunia kecil tempatmu mengenyam ilmu agama ini adalah ladang agar kau mampu bijak dan dewasa dalam menyikapi dunia besar dengan segala problematikanya yang akan siap keras menghantam. Sedikit saja kau lengah, engkau akan terhempas jauh kedasar tempat yang tak kau ketahui dimana dirimu terlempar. Persipakanlah !

“Man ‘arofa bu’dassafari fasta’adda” barang siapa yang mengetahui jauhnya perjalanan, maka bersiap-siaplah.

Untuk para alumni, entah harus berkata apa. Kurasa, kalian lebih bisa menyikapi apa yang mestinya kita lakukan. Darul huffadh akan selalu dihati, sekarang, seterusnya, selamanya. Dibela dan diperjuangkan.

Darul huffadh WE LOVE YOU ! sejak dulu, sekarang, seterusnya dan selamanya.

Selamat milad ke- 37 untuk DARUL HUFFADH-ku.DARUL HUFFADH kita. DARUL HUFFADH milik semua.

Mengenang Ayahanda KH. LANDRE SAID (alm) “Allohummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu anhu”.

***

 Makassar, 17 Juli 2012 

 

Catatan :

  • Thobur : Antri
  • Jaros : bel yang berdentang,untuk menandakan peralihan dari satu aktifitas santri ke aktifitas yang lain. Misal dari masuk kelas beralih ke aktifitas bersiap siap ke mesjid.
  •  Iqob : hukuman.
  • Ridhollahi fi ridho al walidayn : ridho Allah terletak pada ridho kedua orang tua.
  • ikan bolu : ikan bandeng

 

 

Penulis adalah Khaerunnisa El Said, Mahasiswi kebidanan stikes nani hasanuddin makassar, aktif di Forum Lingkar Pena Sulawesi selatan.