Skip to Content

Kebutuhan Belajar Santri Read more     Syarat-syarat Masuk PP. Darul Huffadh Read more     GERBANG : Kado mini Milad ke- 37 Darul Huffadh-ku Read more     PENGAJUAN ACARA MENJELANG KESYUKURAN KE - 37 TAHUN Read more     FORMATUR PANITIA KESYUKURAN KE 37 TAHUN PONDOK PESANTREN PUTRI DARUL HUFFADH Read more     Panitia Keyukuran Ke-37 Tahun Darul Huffadh Read more     Lepas Kangen dengan DARUL HUFFADH Read more     Liputan D'Jour Read more     Pendaftaran Santri Baru Read more     Pondok Pesantren Akan Disetarakan Read more     

Keutamaan Muhasabatunnafsi*

Muhasabah

Allah SWT selalu mmerintahkan kaum muslimin untuk melakukan muhasabatunnafsi, dan ini dapat kita lihat dalam ayat Al-hasyr ayat 18. Sayyid qutub dalam kitabnya fidzilalil qur’an mengomentari ayat diatas berkata : kalimat dan kata-kata dalam ayat tersebut mempunyai arti yang sangat luas dan cakupan yang sangat besar bagi seorang manusia, kata-katanya cukup membuka kesadaran dan hati manusia akan apa yang dia siapkan untuk hari-harinya bahkan untuk sepanjang hidupnya.

Pengembaraan seseorang dalam ayat diatas untuk mencari makna hidup akan membawanya kepada pemikiran untuk selalu membuat persiapan yang cukup untuk dia bawa di akhirat kelak. Walaupun seseorang selalu melakukan kebaikan, namun apabila ia mencermati kembali ayat diatas, akan selalu membawanya kepada perasaan bahwa apa yang ia kerjakan selama ini belum berarti apa-apa di bandingkan karunia yang Allah berikan, apalagi bagi yang merasa belum melakukan apa-apa yang akan di persiapkan untuk akhirat kelak, maka inilah saatnya berbenah demi kehidupan yang lebih baik di hari akhirat.

Dan Allah SWT berfirman :

) وَلا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَة) [القيامة: 2]

Yang bermaksud : Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang menyesali ( dirinya sendiri ) ( Al-Qiyamah : 2 )

Al-farra’ berkata : tidak ada satupun jiwa yang tidak menyesal dengan apa yang di perbuatnya, jiwa yang baik apabila melakukan suatu amalan maka dia akan selalu berkata : kenapa aku tidak menambah amalan baik itu, dan jiwa yang buruk apabila melakukan perbuatan buruk dia akan berkata kenapa saya melakukannya. Al-Hasan berkata bahwa seorang mukmin selalu melakukan introspeksi terhadap dirinya, dan mempertanyakan segala sesuatu yang di perbuatnya, dia akan selalu bertanya bagaimana dengan kata-kataku, bagaimana dengan makanan dan minumanku, sedangkan orang kafir tidak akan pernah mengambil berat dengan apa yang dia lakukan.

Sungguh sangat indah apa yang dikatakan oleh khalifah Umar bin Khattab ketika ia berkata : hisablah diri kalian sebelum kalian di hisab oleh Allah SWT, dan timbanglah diri kalian sebelum di timbang oleh Allah dn bersiaplah untuk menghadapi hari yang besar.

Imam Ahmad meriwayatkan dari wahb bin Munabbih bahwa beliau berkata : telah tertulis dalam kitab daud Alaihissalam : ada empat masa yang tidak boleh di lalaikan oleh seorang hamda dalam hidupnya yaitu, masa ketika dia bermunajat kepada Tuhannya, masa ketika dia mengadakan muhasabah terhadap dirinya, masa dimana dia berkumpul dengan saudara-saudaranya yang selalu menceritakan aib dan kekurangannya dan mempercayai serta memperbaikinya, dan masa ketika dia hanya berdua dengan jiwanya dan memikirkan segala maca kesenangan yang telah dia rasakan, dengan masa inilah yang akan selalu membantu dia melewati waktunya, dan menata hatinya.

Dari sinilah kita dapat merasakan urgensi dari muhasabatunnafsi dan bahaya yang mengancam ketika seseorang meremehkannya. Dengan selalu melakukan muhasabah terhadap diri kita, maka kemanisan iman dapat kita rasakan sebagai akibat dari ketenangan hati, karena kemanisan iman hanya dapat tercapai dari hati yang tenang. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata: Demi Allah tidak akan pernah memasukan ke surga akhirat orang yang tidak pernah merasakan surga dunia. Maksud beliau surga dunia ialah kelezatan batin yang didapatkan seseorang tatkala sedang melakukan ketaatan kepada Allah ta‘ala, dengan muhasabah dan tazkiyah maka hal itu dapat tercapai. Hal ini senada dengan apa yang dikatan Imam An-Nawawi Rahimahullah tatkala mentafsirkan Hadits Rasululloh Shollallahu alaihi wasallam yang berbunyi:

 

ثلاث من كن فيه وجد حلاوة الإيمان : أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله ، وأن يكره أن يعود في الكفر بعد أن أنقذه الله منه ، كما يكره أن يقذف في النار . رواه البخاري ومسلم

“ Ada tiga poin barang siapa ada padanya akan merasakan manisnya iman : Allah dan Rasulnya lebih ia cintai dari selain keduanya, mencintai seseorang karena Allah, benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah mengeluarkannya dari kekufuran tersebut, sebagaimana bencinya apabila ia dicampakkan kedalam neraka.” ( HR.Bukhori no :16. dan Mus­lim no:43 )

Makna “ Halawatul Iman” ( Manisnya iman ) kata beliau ialah: Merasakan kelezatan ibadah dan sabar menanggung kesusahan ibadah ” . Sehingga dia meyakini dan merasakan kedamaian dan kesejukan batin hanya kalau berada di samping Allah dan berkholwat dengannya, dengan selalu mengadakan muhasabah terhadap dirinya dan mendekatkan diri kepada Allah. Kesengsaraan dan kecelakaan sangat terasa tatkala jauh dari sang Kholiq dan juga tatkala meninggalkan perintah atau melanggar laranganNya.Renungkan juga firman Allah:

 

وَمَن أَعرَضَ عَن ذِكرى فَإِنَّ لَهُ مَعيشَةً ضَنكًا وَنَحشُرُهُ يَومَ القِيٰمَةِ أَعمىٰ ﴿١٢٤﴾ قالَ رَبِّ لِمَ حَشَرتَنى أَعمىٰ وَقَد كُنتُ بَصيرًا ﴿١٢٥﴾ قالَ كَذٰلِكَ أَتَتكَ ءايٰتُنا فَنَسيتَها ۖ وَكَذٰلِكَ اليَومَ تُنسىٰ ﴿١٢٦

“ Dan barang­siapa berpaling dari peringatanKu, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.

Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, Mengapa Engkau menghimpunkan Aku dalam keadaan buta, padahal Aku dahulunya adalah seorang yang melihat?”.

Allah berfirman: “Demikianlah, Telah datang kepadamu ayat-ayat kami, Maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari Ini kamupun dilupakan “( QS.:Thoha : 124–126 )

Seandainya kita mau berpikir betapa mengerikannya hari-hari itu sehingga kita merenungkan jalan hidup kebanyakan manusia di dunia yang kita lihat selama ini, niscaya kita akan sadar betul bahwa ternyata masih banyak di antara kita yang telah terlena dengan keindahan dunia yang semu ini dan lupa bahwa setelah kehidupan dunia yang semen­tara ini masih ada kehidupan lain yang kekal abadi yang lamanya satu hari di sana sama dengan 50 ribu tahun di dunia.

Kita telah terlena dengan gemerlapnya dunia dan lupa untuk beribadah kepada Allah dan beramal saleh. Padahal pada hakikat­nya kita hanya diminta untuk beramal selama 30 tahun saja! Tidak lebih dari itu. Suatu waktu yang amat singkat.

Ya, kalaupun umur kita 60 tahun, sebenar­nya kita hanya diminta untuk beramal selama 30 tahun saja. Karena umur yang 60 tahun itu akan dikurangi masa tidur kita di dunia yang jika dalam satu hari adalah 8 jam, berarti masa tidur kita adalah sepertiga dari umur kita yaitu : 20 tahun. Lalu kita kurangi lagi dengan masa kita sebelum balig, karena seseorang tidak berkewajiban untuk beramal melainkan setelah ia balig, taruhlah jika kita balig pada umur 10 tahun, berarti umur kita hanya tinggal 30 tahun.

Subhanallah, bayangkan, pada hakikatnya kita diperintahkan untuk bersusah payah dalam beramal saleh di dunia hanya selama 30 tahun saja. Alangkah naifnya jika kita enggan bersusah payah selama 30 tahun di dunia untuk beramal saleh, sehingga akan berakibat kita mendapat siksaan yang amat pedih di akhirat selama puluhan ribu tahun. Maka janganlah kita menjual akhirat kita dengan harga dunia. Selayaknya kita justru membeli akhirat kita dengan segala apa yang kita miliki di dunia ini.

* Ustadz Saifuddin Amin, Lc

 

Komentar

Benah Diri

Setiap waktu perlu tuk bermuhasabah, benarkah kita telah berbuat baik dengan sesama? hehe

Benah Diri 2

Pasti itu ustas...kita harus selalu muhasabah agar bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya smiley