Skip to Content

Kebutuhan Belajar Santri Read more     Syarat-syarat Masuk PP. Darul Huffadh Read more     GERBANG : Kado mini Milad ke- 37 Darul Huffadh-ku Read more     PENGAJUAN ACARA MENJELANG KESYUKURAN KE - 37 TAHUN Read more     FORMATUR PANITIA KESYUKURAN KE 37 TAHUN PONDOK PESANTREN PUTRI DARUL HUFFADH Read more     Panitia Keyukuran Ke-37 Tahun Darul Huffadh Read more     Lepas Kangen dengan DARUL HUFFADH Read more     Liputan D'Jour Read more     Pendaftaran Santri Baru Read more     Pondok Pesantren Akan Disetarakan Read more     

Renungan

Muhasabah

Seorang dokter terlihat bergegas menuju ruang operasi. Tanpa ada sebaris senyum pada mukanya. Di depan pintu ruang operasi, ayah dari anak yang akan di operasi menghampirinya, "kenapa lama sekali Anda sampai ke sini? Apakah Anda tidak tahu, nyawa anak saya terancam jika tidak segera di operasi", labrak si ayah. Dokter itu tersenyum tipis, "Maaf, saya sedang tidak di rumah saki tadi, saya secepatnya ke sini setelah ditelpon pihak rumah sakit". Kemudian ia meninggalkan sang Ayah dari pasiennya, juga dengan senyuman tipis.

Setelah beberapa jama, ia keluar dan juga bergegas menghampiri si Ayah pasien seraya berkata, "Syukurlah keadaan anak anda kini stabil". Tanpa menunggu jawaban sang Ayah, dokter pun melanjutkan, "Suster akan membantu Anda jika ada yang ingin Anda tanyakan". Dokter tersebut pun berlalu meninggalkan sang ayah pasien.

Sang Ayah pun kecewa dan bertanya kepada suster, "Kenapa dokter itu angkuh sekali? Dia kan sepatutnya memberikan penjelasan mengenai keadaan anak saya! Apakah seperti ini dokter di rumah sakit ini? Saya sangat kecewa!".
Sambil meneteskan air mata suster pun menjawab, "Anak dokter tersebut meninggal dalam kecelakaan, Beliau sedang memandikan jenazah anaknya saat kami menelponnya untuk melakukan operasi pada anak Anda. Sekarang anak Anda telah selamat, ia bergegas kembali untuk menguburkan jenazah anaknya".
Sang ayah pun terdiam. Hening.

Saudara dan Sahabatku yang sempat membaca ini yang hati dan dirinya selalu berlimpah kebaikan ....
Kita bukanlah satu-satunya manusia segudang masalah. Jangan pernah terburu-buru menilai seorang. Maklumilah, setiap jiwa di sekeliling kita selau menyimpan cerita kehidupan yang mungkin tak terbayang oleh benak kita.
Semoga kita menjadi pribadi dengan prasangka baik yang semakin luas dan bersyukur dengan apa yang telah dianugerahkan oleh-Nya dalam hidup ini. Amin